Hari ini kita bertemu lagi. Setelah hari-hari tanpa kata itu. Setelah hari yang menyakitkan itu. Kamu memandangku dengan tatapan yang sama seperti dulu. "Masih ingatkah kamu?" katamu.
Aku tertawa. "Serius amat. Inget apa emangnya?"
Kamu memandangku lama dalam diam. Aku tertawa. Tertawa agar gemetarku tak terlalu kentara. Tatapanmu yang beku, rasa sakit hati yang memancar dari lakumu, menggores tiap inchi kulitku. Kamu memalingkan wajahmu lalu pergi tanpa kata lagi.
Aku memandang punggungmu yang menjauh. "Bagaimana mungkin aku lupa? Sedangkan tak pernah satu hari pun bayangmu menghilang dari benakku."
Ah,. sepertinya aku harus pergi juga. Air mata ini rasanya akan tumpah.
Kamis, 20 Maret 2014
#26, Bagaimana mungkin aku lupa?
Diposting oleh snaily di 00.39 0 komentar
Label: ai, short story, surat cinta
#24,
"Lihat! Jari-jarimu panjang sekali." Aku menempelkan telapak tanganku pada telapak tangannya setinggi mataku. "Telapak tanganmu lebih besar dari aku. Hahahaha.."
Kamu menatapku sejenak, tersenyum, "Supaya aku bisa membungkus tanganmu seperti ini." Kamu meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Tawaku terbungkam.
"Atau menghangatkanmu seperti ini saat kamu kedinginan." Kamu menangkupkan kedua telapak tanganmu di pipiku. Kamu menunduk, menatap langsung ke dalam mataku. Aku terdiam salah tingkah. Rasanya pipiku memanas. Ah. Pasti itu karena tanganmu. Iya kan?
Diposting oleh snaily di 00.26 0 komentar
Label: ai, short story, surat cinta
Rabu, 05 Maret 2014
Lelakiku
Untuk kesekian kalinya aku dan lelaki ini berjalan melewati jalan ini. Kali ini kami berjalan bersisian dalam gerimis. Dia memayungi kami berdua dari hujan. Walau aku sebenarnya tau dia mencondongkan payungnya lebih padaku dan membiarkan sebelah bahunya basah.
Lelaki ini. Lelakiku. Lelaki yang berjalan di sisiku ini selalu ada di sana sejak lima bulan yang lalu. Saat itu dia menyatakan cintanya padaku. Dia ingin berada di sampingku. Aku menerimanya begitu saja. Aku menerima cintanya. Aku menerimanya untuk ada di sampingku. Lalu dia selalu ada.
Lima bulan. Aku tak pernah mengatakan perasaanku padanya. Tak sekalipun 'suka'. Apalagi 'cinta'. Saat kami bersama. Kami hanya bersisian. Aku menepis tangannya saat dia mencoba menggenggam tanganku. Aku menjauh darinya setiap dia berada terlalu dekat denganku. Aku menolak rangkulannya di bawah payung saat hujan deras. Membuautnya mengalah kebasahan hanya untuk membuatku tetap terlindung di bawah payungnya.
Kata teman-temanku aku hanya memanfaatkannya. Kata mereka aku memperbudaknya karena lelaki itu memujaku. Kata mereka aku terlalu angkuh. Kata mereka aku tak pantas dicintai lelakiku. Padahal bukan seperti itu. Aku juga mencintainya. Aku juga menginginkannya ada disisiku seperti dia menginginkan aku disisinya. Aku hanya terlalu takut. Takut tak dapat melepaskannya setelah merasakan sentuhannya.
Aku menatap jalan yang lengang di depanku. Aku memikirkan keterlambatan lelakiku di tempat janjian kami. Seorang temannya yang perempuan menahan lelakiku untuk membantu entah apa. Hal itu mengakibatkan lelakiku terlambat datang dan membuatku menunggu dalam gerimis cukup lama.
"Kamu masih marah?" Suara lelakiku mengembalikanku pada jalan yang lengang di hadapanku.
"Tidak." jawabku.
"Marahlah seperti biasa kalau kamu memang marah karena aku terlambat. Jangan diam saja seperti itu."
"Bukan begitu." Jawabku lagi
"Aku harus bagaimana? Aku tidak tau harus berbuat apa jika kamu terus seperti ini." Aku merasakan gerimis jatuh di wajahku. Lelakiku berhenti berjalan beberapa langkah di belakangku.
Seandainya lelakiku tau, yang menggangguku adalah kata-kata perempuan itu saat mengantarnya. Bukan karena keterlambatannya. Dia tidak pernah mencintaimu. Kenapa tidak kamu tinggalkan saja dia dan bersamaku. Aku lebih mencintaimu. Suara perempuan itu terngiang kembali.
Aku menghela nafas. Berbalik dan memandang lelakiku. "Mungkin yang perlu kamu lakukan hanya terus berjalan?" kataku. Lelakiku memandangku. Dia menghela nafas dan mulai berjalan. Sejenak dia berhenti di sampingku. Menungguku berjalan terlebih dahulu. Kali ini kami berjalan bersisian dalam diam dengan beban yang terasa berat di sekitar kami. Aku merasakan kekecewaan lelakiku.
Aku mengangkat tangan kananku, ingin memegang lengan lelakiku. Tapi keragu-raguan menurunkan tanganku. Beberapa langkah kemudian, aku tak tau bagaimana, tapi tangan kananku melingkar di pinggangnya, kepalaku bersandar di lengannya, dan dia berhenti berjalan. Aku merasakan keterkejutannya.
"Teruslah berjalan bersamaku." kataku sambil menunduk menyembunyikan wajahku yang memerah. Aku merasakan lelakiku tetap bergeming.
"Aku mencintaimu. Kamu tau itu, kan?" kataku lagi. Kali ini Aku merasa payung kami berpindah ke tangan kanannya. Tangan kirinya melewati pundakku, menggenggam tangan kiriku, membawanya ke bibir lelakiku. Aku menarik tangan kiriku dengan malu. Sungguh malu hingga rasanya wajahku terbakar.
"Aku tau." Bisiknya. Kami berjalan lagi di jalan itu. Kali ini beban yang tadi begitu berat menghilang. Aku merasakan senyum di wajah lelakiku. Aku merasakan sudut-sudut bibirku terangkat membentuk senyum. Aku tau lelakiku akan terlindung di bawah payung sama sepertiku. Aku tau. Kami akan baik-baik saja.
Diposting oleh snaily di 01.45 0 komentar
Label: mimpi, short story
Jumat, 28 Februari 2014
Sel abu-abu, kamu, dan perjalanan ke kota kita
Akhir minggu lalu aku pulang ke kotamu. Kota kita mengais ilmu. Apa aku pernah berkata bahwa aku tidak suka perjalanan ke kota itu? Bukan karena aku tidak suka kota itu, bukan. Aku tidak suka jalan berkelok dan rusak menuju kota itu. Hanya itu. Jalan panjang seperti ular yang tercabik-cabik itu membuatku mual. Tak jarang membuatku mengeluarkan isi perutku. Membuatku lemas dan pusing. Aku tidak suka itu.
Diposting oleh snaily di 01.28 0 komentar
Label: short story
Rabu, 30 Oktober 2013
Siapa sangka
Diposting oleh snaily di 22.29 0 komentar
Label: short story
Selasa, 29 Oktober 2013
Sikapku
Diposting oleh snaily di 21.10 0 komentar
Label: short story
Senin, 28 Oktober 2013
Jangan khawatir
Katamu aku lagi-lagi membandingkan kamu dengan dia. Maaf. Sungguh aku minta maaf. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Katamu aku lagi-lagi membahas tentang dia. Maaf. Sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku mengerti bahwa kamu tidak suka. Aku pun akan merasakan hal yang sama jika kamu membicarakan perempuan itu. Tapi sungguh. Aku tidak sengaja melakukan ini. Maafkan aku.
Diposting oleh snaily di 00.35 0 komentar
Label: short story
Jumat, 06 September 2013
Kamu, Rumah
Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan bagiku. Mataku penuh dengan air mata yang kupertahankan agar tidak tumpah. Air mata yang membuat dadaku sesak. Saat tiba waktunya untuk pulang, kamu tidak tahu betapa leganya aku saat menemukanmu telah menantiku. Aku tau kamu menantiku cukup lama hanya untuk memastikan bahwa aku tidak perlu menunggumu dengan dada yang semakin sesak.
Saat kamu tersenyum dan merentangkan tanganmu, pertahananku runtuh. Saat kamu memelukku dan mengatakan "Kamu sudah bekerja keras. Sekarang istirahatlah..", aku hanya menangis.
Kamu adalah rumah. Tempat yang aman dan nyaman.
Diposting oleh snaily di 23.52 0 komentar
Label: short story
Jumat, 21 Juni 2013
Aku tau kata-kata yang meluncur dari bibirku sedetik lalu telah menyakiti hatimu. Aku bisa melihat kepedihan terpancar dari sana. Aku menyesal. Sungguh. Tapi kata-kata maaf itu tak juga terucap. Aku hampir yakin kamu akan mengalah dan membujukku seperti biasanya. Tapi kali ini aku salah.
Diposting oleh snaily di 04.09 0 komentar
Label: short story
Jumat, 17 Februari 2012
Bolos? ini Kencan ^^
...
"Hei, kalian ngapain masih di sini? orang-orang pada di depan tuh,. udah mulai acaranya,." Anggi muncul di depan kami: aku, Akbar, dan Rian yang sedang ngobrol seru. Ah, aku tak tau, sepertinya seru. Setelah aku pikir-pikir lagi, aku hanya mendengar dua lelaki itu ngobrol. Bukan aku tidak mengerti, aku hanya menikmati suara mereka. Terutama dia..
"Asik di sini. Hahahaha.." Rian mengangkat gelasnya yang berisi es jeruk. "Dapet gratisan dari Akbar nih, Nggi."
"Ah.. kalian ini." Anggi menggeleng-gelengkan kepalanya dan ikut duduk dihadapan Akbar, di samping Rian. Aku tersenyum. Aku kira dia akan menarik kami ke depan untuk berpartisipasi.
"Segitu senengnya, Ras?" Akbar mengacak lembut rambutku.
Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum lebih lebar lagi, "Sama kalian gak pernah membosankan."
Anggi dan Rian berpandangan lalu tertawa dan ikut mengacak rambutku kemudian mulai heboh membicarakan sesuatu.
Akbar melingkarkan tangannya dipundakku "Kabur yuk." ajak Akbar di telingaku. Aku menatapnya tak percaya. Yah,. aku 'anak baik' yang gak pernah membolos. Sedangkan Akbar dimasukkan guru-guru dalam list 'anak nakal' yang sering membolos pelajaran dengan banyak alasan. Kami memang teman main, tapi dia gak pernah mengajakku membolos sebelum ini.
"Kenakalan pertama dan terakhir?" aku terseyum lebar.
"Ya, kamu. Aku sih..." Akbar menggantung kalimatnya. Anggi dan Rian masih berdebat. Kantin ini memang sepi. Satu-satunya jalan keluar adalah gerbang depan. Kabur berarti melewati kolam manusia yang sedang bersuka ria atas berakhirnya semester ini.
Pandanganku kembali pada Anggi. Aku tahu perasaannya pada Akbar. Dia mencintainya, itu yang pernah dia akui padaku. Yang aku tidak tau adalah perasaan Akbar. Dan juga perasaanku padanya. Ah, ya,. aku bohong, aku menyukainya, namun aku tak pernah sanggup mengakuinya.
"Hei, ayo,. mau gak?" Akbar menyadarkanku dari renunganku.
"Ummm,.." aku ragu-ragu. Senyumku hilang. Aku gak mau Anggi cemburu. Dia temanku. Hah, alasan apa ini? Aku memukul kepalaku.
"Baiklah,." Akbar tiba-tiba berkata seperti itu. "Aduh, aku bukannya gak mau." Ingin aku bilang begitu. Tapi aku hanya dapat menunjukkan wajah kecewa.
Akbar berdiri. Kekecewaanku bertambah. Bodohnya aku, aku harusnya mengiyakan.
Tiba-tiba aku merasakan badanku tertarik dari kursi. Akbar memegang lenganku. Kursiku terguling dan menimbulkan suara berisik. Anggi dan Rian menoleh ke arah kami, aku merasakan pandangan orang-orang tertuju padaku. Aku tak tahu, tapi sepertinya mukaku memerah.
"Akb..." suaraku terpotong kalimat Akbar yang membuatku sesak. "Raras aku culik yak?" Dia tersenyum dan merangkulku pergi.
Aku tak dapat berkata-kata, mengikuti langkahnya menuju kolam manusia di depan sana. Di depan pintu kantin kakiku enggan melangkah dan wajahku mendongak, menatap mata Akbar meminta penjelasan.
"Kencan, kencan,. Ini bukan bolos kok." Dia tersenyum. Senyum yang selalu aku suka. Aku balas tersenyum. Dia selalu menenangkan aku, memenangkan aku.
Aku menurut saat dia merangkulku melewati kolam manusia. Aku bersembunyi dengannya dari guru pengawas. Aku mengendap-endap dengannya dari wali murid yang menjadi tamu undangan. Aku berlari dengan tanganku dalam genggamannya saat kami ketahuan dan dikejar pengawas. Berlari melewati pengawas sekolah, berlari menyebrangi lapangan sekolah, dan mengerjai satpam untuk dapat keluar gerbang.
Aku merasa bebas dari entah apa yang membelengguku. Aku tertawa lepas dengan muka merona merah.
Kami masih berlari menyusuri trotoar, menjauh dari sekolah. Aku menyukaimu, Bar. Aku sangaat menyukaimu. Kata hatiku sambil menatap punggungnya.
Kami berhenti berlari setelah cukup jauh dari sekolah. Menjatuhkan diri di sebuah tanah kosong. Kami berdua terngengah-engah, terutama aku. Kami berdua bertatapan dan tertawa.
"Asik?" tanya Akbar padaku yang berantakan. Ah, pasti aku berantakan sekali. Tapi sekali ini aku tak ingin peduli. "Asik." jawabku singkat.
"Yok, jalan. Sekarang kita memasuki babak utama rencana kita." Dia mengulurkan tangannya, menolongku berdiri. Sungguh senyumku tak dapat hilang.
"Kita kemana?" tanyaku.
"Kamu mau kemana?" tanya Akbar balik. Dia mengeluarkan topi dari tasnya. Aku ingat itu topi yang aku berikan secara anonim saat dia ulang tahun di kelas satu.
"Aku gak tau. Aku gak pernah bolos." jawabku polos. "Aku kan gak kaya kamu yang gaul." Aku tertawa menyadari kata-kataku itu.
"Hei, ini bukan bolos, Ras. Ini kencan." Kata Akbar tidak terima. Dia mengeluarkan sebuah topi lagi dari tasnya, berwarna biru muda-pink, dan memakaikannya di kepalaku. "Biar kamu gak kepanasan." Senyum itu muncul lagi. Akbar berjalan di depanku. "Gantinya topi ini." tambahnya sambil menunjuk topi yang dikenakannya.
Aku tersenyum, dia ternyata tau. Sejak kapan? Aku gak bisa menahan diri lagi. Aku berlari ke arah Akbar dan mememeluk tangannya, berjalan di sampingnya. "Yah, apa boleh buat kalo kamu segitu pinginnya kencan sama aku." kataku. Akbar membalasnya dengan memegang kepalaku sekilas. Ah, aku merasa dia tersenyum lagi.
Diposting oleh snaily di 00.14 0 komentar
Label: short story
Kamis, 16 April 2009
KyRaNa--Part 1
“Jadi anak kelas 6 SD itu menyebalkan! Banyak banget tugas yang dikasih guru-guru ke kita. Tugasnya rumit lagi! Harusnya guru-guru gag kasih tugas banyak-banyak, kan bentar lagi mau ujian. Gimana belajarnya kalo setiap hari di kasih tugas seabrek gini??” Vina mengomel kecil sepanjang perjalanannya ke tempat Enggar bersama teman-temannya untuk belajar kelompok.
“Baru semester 1 kali, Vi.” Kata Enggar sambil tersenyum.
“Dikasih tugas aja kamu gag belajar, Vi,”tambah Rizky dengan isengnya menarik rambut Vina yang terikat rapi. “Kalo gag dikasih tugas, kamu bisa gag lulus nanti.”
Vina cemberut mendengar kata-kata Rizky itu. “Aku belajar tau!”
“Gag percaya aku.” Rizky mengolok Vina. “Kamu kan tiap hari main.”
“Belajar!” bantah Vina.
“Main!” sahut Rizky gag mau kalah.
“Aku belajar!!!” Vina mengulanginya lagi.
“Vina main mulu!” Rizky menjulurkan lidahnya.
“Ugfhh…” Vina berlari mengejar Rizky yang cepet-cepet kabur sambil tertawa penuh kemenangan ketika menyadari air muka Vina yang sepet.
“Vi, pulang kapan? Aku pulang sekarang. Udah sore.” Rizky membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja makan rumah Enggar.
“Yang lainnya kapan?” Vina mengedarkan pandangannya ke arah teman-temannya yang lain.
Muslih terlihat membereskan alat tulisnya. Neni bahkan udah memakai sepatunya.
“Ikut kamu deh.” Kata Vina ke Rizky tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya. Vina membereskan buku-bukunya, memasukkan semua ke dalam tasnya dan memakai sepatunya.
Rizky, Muslih dan Neni udah menunggunya di luar rumah Enggar.
“Makasih ya, Nggar.” Kata mereka bersamaan.
“Yok! Besok belajar bareng lagi ya!” jawab Enggar dengan semangat.
“Oke!” jawab Vina, yang lain hanya tersenyum.
Vina, Rizky, Muslih dan Neni berjalan bersama keluar kompleks rumah Enggar. Setelah itu mereka berpisah di pintu kompleks, Neni dan Muslih ke arah timur, Vina dan Rizky ke arah barat.
“Jalan ya, Ky?” pinta Vina gag lama setelah mereka melewati gerbang kompleks rumah Enggar.
“Bis aja deh, mau ujan.” Jawab Rizky.
“Jalan aja, Ky. Sekalian olah raga. Ya?” pinta Vina lagi.
“Nih, ya, kalo jalan, ntar keringetan, capek. Bis, oke?” Rizky gag mau kalah.
“Jalan, Ky.”
“Bis!”
“Jalan!”
“Bis!”
“Huh! Cowok kok loyo banget! Sini rumah Cuma 2 kilometer kok!” Vina berkata dengan sinis.
“Siapa yang loyo? Aku tu mikirin kamu tau! Ntar kamu ngeluh! Bilang capek! Bilang keringetan!” Rizky gag terima dikata-katain Vina kaya’ gitu.
“Bilang aja kalo kamu yang takut capek, takut keringetan.” Vina masih sinis.
“Ya udah! Jalan! Puas kamu?! Jangan ngeluh ya!” Rizky berjalan cepat di depan Vina. Vina tertawa dalam hati, “Yes! Menang!”
“Cepet! Mau ditinggal?!” bentak Rizky.
“Iya, iya, sewot amat!” Vina berlari menyusul Rizky.
Sepanjang perjalanan mereka, Rizky hanya diam. Mungkin marah dengan ejekan Vina tadi. Sementara itu, Vina sama sekali keberatan untuk memulai pembicaraan. Tiba-tiba hujan turun. Awalnya hanya gerimis. Rizky dan Vina semakin cepat berjalan membelah hujan. Tapi lama kelamaan, hujan menjadi semakin deras. Rizky menepi. Dia berteduh di sebuah emperan toko kelontong. Vina menyusulnya.
“Bawa payung gag kamu?” Tanya Rizky setelah sekian lama mereka diam. Vina menjawabnya dengan gelengan pelan.
“Cewek kok gag bawa payung sih?” Rizky menggerutu.
“Emangnya ada kewajiban bawa payung buat anak cewek?” balas Vina.
“Biasanya tu cewek bawa payung ke sekolah! Cuma kamu yang gag. Cewek males! Pantes aja gag ada cowok yang mau ama kamu. Kamu males sih! Kasian nanti yang jadi cowokmu.” Rizky tampaknya mulai kumat jailnya. Terlihat sekali banyak ejekan yang terlontar dari bibirnya. Vina gag menjawabnya.
“Tumben diem, cewek males! Mengakui kekuranganmu?” Rizky senang karena Vina gag bisa membalas kata-katanya. Dia menoleh, ingin melihat wajah Vina yang cemberut karena gag tau harus ngomong apa. Tapi ternyata, yang Rizky temukan adalah seorang cewek lemah yang terlihat kedinginan. Bukan cewek yang cemberut karena kesal.
“Kenapa, Vi?” Rizky jadi khawatir. Gimanapun juga, Vina pulang sama dia. Jadi kalo ada apa-apa ya dia yang bakal ditanyain.
“Kedinginan?” Rizky mendekati Vina yang berjongkok sambil memeluk tasnya erat.
“Tuh, kan! Aku bilang juga apa! Naik bis aja! Kamunya ngeyel.” Rizky jadi ngomel-ngomel. “Gimana dong, sekarang?” Tanyanya. Vina gag menjawab. Dia hanya menunduk, memeluk tasnya erat-erat.
“De,” panggil seseorang dari dalam toko itu. Rizky menoleh. “Adiknya Rian ya? Yang rumahnya di Perum BPI blok A-2?” Tanya orang itu.
“Iya.” Jawab Rizky.
“Nih, mbak pinjemin payung.” Kata orang itu sambil mengulurkan sebuah payung yang ukurannya tidak terlalu besar.
“Cukup kalo dipake sama cewekmu.” Katanya dengan tertawa.
“Mbak ni sapa sih?” Tanya Rizky. “Pacarnya mas Rian?”
“Ah, kamu bisa aja.” Orang itu tersipu malu. Rizky memandangnya dengan tatapan aneh.
“Ya udah deh, mbak. Makasih ya. Aku pinjem dulu.” Rizky segera meninggalkan mbak baik hati tapi aneh tadi dan menghampiri Vina.
“Vi, aku dapet payung nih! Pulang yuk!” ajak Rizky. Vina berdiri dengan cepat. Dia merebut payung yang dibawa Rizky dan meninggalkan berlari membelah hujan.
“Hahahahaha…” Vina tertawa. “Kena deh!”
“Vinaaaaaaaa…..” Rizky berlari mengejar Vina. “Awas kamu!!”
“Hahahahaha…”
Setelah kejadian Vina menculik payung Rizky dan Rizky mengejar payungnya, mereka berjalan bersama di bawah satu payung. Tadinya. Semuanya gag masalah sampai akhirnya, di sebuah lapangan bola, ada sekumpulan anak-anak yang menyoraki mereka, “Pacaran!! Pacaran!!”
Rizky yang risih dengan kata-kata itu berlari menjauhi Vina.
“Ky! Tungguin dong!” Vina mengejar Rizky yang mulai basah kuyup dengan air hujan. “Ky! Kamu basah banget! Ayo payungan!”
“Gag usah! Kamu aja!” Rizky mempercepat jalannya.
“Ky!!” Vina memanggil Rizky lagi. Yang dipanggil menyeberangi batu-batu di sungai dengan lincah dan sampai di seberang sungai dengan selamat.
“Auh!” sayangnya Vina gag selincah Rizky. Dia terpeleset dan jatuh ke dalam sungai. Vina gag segera bangkit berdiri. Dia menatap Rizky yang udah mau jalan lagi.
“Ky…” Panggil Vina meminta tolong.
Rizky yang udah setengah jalan menaiki tangga yang dibuat dari tanah berhenti. Dia memandang Vina yang terduduk di tengah sungai. Basah kuyup seperti dirinya.
Rizky berdecak kesal. Dia kembali turun dan menolong Vina bangun sambil menggerutu. “Ngerepotin banget sih, kamu.”
“Maaf.” Kata Vina dengan wajah menyesal.
“Jangan bilang kalo kakimu keseleo.” Kata Rizky dengan kesal. Vina tersenyum meminta maaf.
“Hih! Kamu tuh jadi cewek udah males, ngerepotin aja bisanya!” Rizky mengomel. Gag Cuma itu, masih panjang omelannya. Tapi tetap saja Rizky menolong Vina berjalan. Dia memapah Vina sampai ke rumah Rizky karena rumah Rizky yang lebih dekat.
“Kok kaya’nya kamu demam ya, Vi?” Tanya Rizky saat mendudukkan Vina di teras rumahnya. Vina hanya tersenyum.
“Mau pulang gimana?” Tanya Rizky lagi.
“Jalan. Gimana lagi?” Tanya Vina.
“Mau sampe rumah kapan, kamu? Kaki keseleo gitu juga.” Rizky mengomel lagi. “Aku minta kakakku nganter kamu deh.” Rizky masuk ke dalam rumah, mencari kakaknya. Vina tersenyum.
“Rizky emang jail banget. Tapi selalu perhatian sama orang lain.” Vina meneliti kulit tangannya yang berbentol-bentol merah. Alerginya kumat!
Vina duduk di pinggir lapangan, memerhatikan teman-temannya yang berolahraga dengan gembira. Setengah hatinya menyesal karena tidak dapat berlari bersama teman-temannya. Setengah hatinya yang lain menikmati kebebasan sementaranya ini.
Sebuah bola menggelinding ke dekat Vina. Seseorang ikut menghampirinya.
“Ngapain gag ikut olah raga nona malas?” Tanya orang itu dengan nada mengejek.
“Hari ini aku jadi Puteri. Puteri gag ikut olah raga. Dia Cuma memerhatikan dengan anggun.” Vina menjulurkan lidahnya ke orang itu.
“Huuu.. Puteri apaan? Puteri Malas? Masa’ Puteri melet sih? Mana anggunnya?” orang itu duduk di sebelah Vina, mengelap keringat yang membanjiri wajahnya dengan lengan bajunya.
“Ugh! Biarin aja.” Vina memalingkan wajahnya dari pendatang itu.
“Masih sakit ya, yang kemarin?” Vina agak terkejut dengan pertanyaan tak terduga itu.
“Cuma gag boleh capek.” Jawab Vina singkat. “Udah ditungguin tuh, bolanya.” Vina menunjuk teman-temannya yang memanggil-manggil nama orang di sebelahnya itu.
“Yo!” orang di sebelahnya melambaikan tangannya ke teman-teman yang memanggilnya. Dia berdiri, menjitak pelan kepala Vina sambil berkata, “Cepet sembuh!” lalu berlari menghampiri teman-temannya yang lain. Meninggalkan Vina yang wajahnya memerah karena malu.
“Rizky nyebelin.” Kata Vina dalam hati.
to be continued..
Diposting oleh snaily di 16.58 1 komentar
Label: short story
Sabtu, 31 Januari 2009
Taly Cinta Rezta
Malam tahun baru. Lily dan teman-teman SMPnya mengadakan reuni kecil-kecilan. Semua bermula dari bertemunya Lily dengan beberapa temannya di friendster. Saat mengobrol di friendster itu, mereka jadi ingin berkumpul dan bercerita lagi seperti dulu. Maklum, banyak di antara mereka yang melanjutkan sekolah ke luar kota sehingga mereka tidak pernah bertemu lagi setelah lulus SMP.
Acaranya hanya kecil-kecilan. Hanya tujuh orang yang datang. Salah satu di antaranya adalah Lily, koordinator acara ini, dulu kelas 3 A. Yang lainnya, ada Tari, sahabat Lily, kelas 3 A. Rezta, gebetan Tari, kelas 3 E. Dino, pengusul acara, kelas 3 B. Ulva, temen SMP Lily yang jadi temen friendster pertama Lily, kelas 3 B. Satria, gebetan Ulva, elas 3 D. Yang terakhir, Etty, sahabat Lily dan Tari sekaligus sponsor acara ini, kelas 3 A.
Seharusnya ini jadi momen yang indah. Bisa bertemu gebetan saat SMP. Bisa ngobrol dengan temen-temen dekat waktu SMP. Bisa melepas kangen dan curhat. Bisa bercanda lagi seperti dulu. Bisa bernostalgila karena mereka semua memang ‘gila’.
Tapi tampaknya, di sudut taman ada yang sedang suntuk. Lily yang menyadari hal itu segera mendekatinya.
“Kok suntuk gitu, Ri?” tanya Lily dengan lembut.
“Nggak pa pa.” Jawab Tari singkat. Tari ingin menyembunyikan kekesalan hatinya. Dia tak ingin ada yang tahu. Tapi ternyata, jawabannya itu tidak dapat menipu Lily yang jadi sahabatnya itu.
“Apa sih, yang membuat kamu kesal?” Lily duduk di sebelah Tari. Dia mencoba memancing Tari untuk bercerita.
“Nggak ada.” Tari masih bersikeras menyimpan kekesalan hatinya.
“Hmm.. kalo gitu, gabung dong, sama yang lain. Lagi manggang ikan hasil mancing cowok-cowok, tuh.” Bujuk Lily.
“Kamu aja yang ke sana. Aku males.” Nada bicara Tari masih sama. Ketus.
“Ayo dong, Ri. Apa kamu nggak seneng ketemu sama temen-temen?” Lily membujuk Tari lagi saat dia melihat Rezta. “Apa kamu nggak seneng ketemu Rezta.” Kali ini nada suara Lily menggoda. Lily tahu, Tari masih suka Rezta. Begitu pun sebaliknya. Ini bukan hanya tebakan Lily. Tapi memang benar adanya. Hanya sayangnya, mereka berdua sama-sama tidak mau mengakuinya.
“Nggak usah sok, deh.” Reaksi Tari ini benar-benar di luar dugaan Lily. Tadi dia mengira Tari akan tertawa mengelak atau malah tersipu malu. Bukannya marah.
“Sok?” ulang Lily bingung. “Sok gimana sih, Ri?”
“Alah, nggak usah sok innocent gitu!” kata Tari sinis. “Huh! Selamat ya, akhirnya kamu jadian sama Rezta.” Lily bertambah bingung mendengar kabar yang satu ini.
“Aku? Jadian sama Rezta? Kok aku baru tau, ya?” Lily tertawa. Dia masih mengira ini hanya lelucon Tari.
“Pura-pura nggak tau, hah?” kemarahan Tari memuncak. Suaranya meninggi. Beberapa temannya menatap Tari ingin tahu.
“Aku bener-bener nggak ngerti maksudmu, Ri. Kalo ini becanda, dan aku harap ini emang becanda, udahin dong. Yang lainnya jadi bingung.” Lily memohon dengan sangat.
“Bercanda?” kata Tari sinis. “Kamu bilang aku bercanda, hah?” Tari menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan diri. Tapi rahangnya mengeras. “Aku udah baca semua commentmu buat dia. Aku udah baca semua commentnya untuk kamu. Dan kamu masih mau mengelak dengan bukti-bukti itu?”
Lily terkesiap. Comment-comment mereka di friendster. Sekali lagi terbayang comment yang dikirimkan Rezta padanya.
Cintaku, cayangku, ge pa nih? Aku ge sakit nie..
Dan terbayang lagi jawaban yang dikirimkan Lily tanpa pikir panjang.
Aduh, kacian beudh cayangku, cini aku ciumin yang atit.
Apa itu yang membuat Tari semarah ini? Semua itu hanya gurauan. Semua itu tidak serius. Semua itu hanya keisengan karena Lily dan Rezta bosan dengan hari-hari mereka. Tapi Tari memang tak bisa disalahkan. Kata-kata itu jelas bisa membuat orang yang membacanya salah paham.
“Nggak bisa mengelak lagi, hah?” Tari menarik Lily kembali dari ingatannya.
“Itu bukan...” pembelaan yang ingin diungkapkan Lily tertahan karena Tari buru-buru menyelanya.
“Kamu tau aku suka dia, Ly. Kamu tau itu.” Mata Tari mulai berkaca-kaca. “Aku bener-bener nggak nyangka kamu bisa ngelakuin itu. Aku nggak nyangka, kamu bisa MENGKHIANATIKU.” Kata-kata yang terakhir itu benar-benar melukai hati Lily. Kata-kata itu membuat air mata Lily menetes.
“Nggak , Ri..” Lily hanya mampu berbisik. “Aku nggak mungkin mengkhianatimu.”
“Kenapa sih, Ly?” Tari terisak di antara kata-katanya. “Kenapa harus Rezta?”
“NGGAK!” Lily berteriak dengan air mata mengalir deras. “Aku nggak pernah jadian sama Rezta!” Lily menghampiri Rezta yang waktu itu sedang memanggang ikan. Dia menarik tangan Rezta mendekati Tari. Rezta hanya mengikuti Lily dengan bingung. Tangannya yang tidak dipegang Lily masih membawa kipas bambu. Tingkah mereka itu memancing keingintahuan semua temannya yang hadir. Mereka menonton adegan demi adegan Lily, Tari dan Rezta dengan penuh minat.
“Rez, kasih tau Tari. Bilang kalo kita Cuma temenan.” Kata Lily memohon. Rezta menatap kedua perempuan di hadapannya. Dua perempuan yang wajahnya basah karena air mata. Salah satunya adalah dia yang dicintai tetapi tak dapat dimiliki.
“Rez, bilang ama Tari. Kita Cuma temenan. Jangan Cuma diem.” Kata Lily lagi saat Rezta hanya terdiam. Dia paham, dia harus mengatakan sesuatu untuk menyelesaikan ini. Untuk menyudahi masalah hatinya.
“Rezta..” ulang Lily lagi. Rezta menatap perempuan yang memegang lengannya erat, meminta jawaban yang dia inginkan. Rezta beralih memandang perempuan yang menangis di hadapannya. Meminta kepastian. Di wajahnya tersirat luka yang dalam.
“Aku pacaran sama Lily.” Kata Rezta pada akhirnya. Pernyataan itu mengejutkan semua orang. Termasuk Lily dan Tari.
“Udah jelas sekarang.” Kata Tari setelah bisa menenangkan diri. Tadi ingin sekali dia mendengar penyangkalan dari mulut Rezta. Tapi sayangnya, bukan penyangkalan yang terucap. “Aku kecewa sama kamu, Ly. Bukan hanya karena kamu jadian sama Rezta. Tapi juga karena kamu bohong sama aku. Juga karena kamu menyembunyikan semua ini.” Tari memalingkan wajahnya. “Aku mau pulang sekarang. Sorry aku nggak mood ada di deket orang yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri.” Tari meninggalkan taman itu dengan hati pecah berkeping-keping.
“Nggak.” Lily menatap punggung Tari yang menjauh. “Nggak. Tari, Rezta bohong. Dia bohong, Ri. Dia bohong. TARI! REZTA BOHONG!!!” Lily berteriak pada sosok Tari yang tak menoleh sama sekali. Lily terduduk di atas rumput. Dia menangis terisak. Teman-temannya yang melihat jadi ikut sedih. Sosok Lily yang menangis terlihat begitu terluka.
“Ly.” Panggil Rezta yang berjongkok di sebelah Lily. Lily bergeming. Tetap menunduk dengan bahu sedikit bergetar.
“Kamu baik aja, kan, Ly?” tanya Rezta lagi. Lily bangkit tanpa menjawab Rezta. Dia menghampiri Etty untuk pamit.
“Sory, aku pulang duluan ya, Ty. Sory, aku udah hancurin pesta kita.” Air mata Lily menetes lagi.
“Sabar ya, Ly.” Etty menepk-nepuk punggung Lily dan disambutnya dengan anggukan singkat. Lalu Lily mengambil tasnya dan pergi dengan kepala tertunduk. Rezta yang melihat hal itu mengejarnya.
“Sory, Ly.” Rezta mengatakan hal itu lebih dari sepuluh kali semenjak Lily meninggalkan kediaman Etty. Sekarang mereka sudah ada di depan gerbang rumah Lily yang berjarak tiga rumah dari rumah Etty. Rezta benar-benar bingung. Lily menangis dan sama sekali tidak mau berbicara padanya. Padahal, kalau bukan Lily, siapa lagi yang bisa diajaknya ngobrol dengan enak, bebas.
“Kenapa?” bisik Lily pelan tapi masih bisa terdengar oleh Rezta.
“Apanya?” tanya Rezta yang merasa mendapat angin.
“Kenapa kamu bilang hal kaya’ gitu sama Tari?” suara Lily semakin jelas terdengar. Tapi kata-katanya membuat Rezta terdiam, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Rezta menunduk dalam.
“Kenapa sih, Rez?” Isak Lily sudah tak lagi terdengar. “Rez.” Panggil Lily lagi. Rezta mengangkat wajahnya dan menemukan Lily menatapnya dengan wajah sembab. Tapi Rezta melihat ada pancaran aneh di mata Lily. Sedih, kecewa, marah, dan sesuatu yang yang lainnya, yang sedikit berbeda.
“Aku...” Rezta tak dapat memberikan alaan apa pun. Otaknya kosong. Hatinya terasa sakit.
“Aku tau kamu masih suka Tari, Rez. Kenapa kamu bersikap seperti itu?” Lily menatap Rezta yang mulai gelisah.
“Rez, jawab aku. Kenapa kamu bersikap seolah-olah kita pacaran? Kenapa kamu ngejauhin Tari selama berbulan-bulan?” Lily menarik nafas dan melanjutkan dengan berbisik, “Padahal kamu tau kalo kamu suka sama Tari.”
“Sejak dulu,.. dan nggak pernah berubah.” Tambah Lily lagi.
Rezta tak berani mengangkat wajahnya lagi. Dia merasa seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.
“Jawab, Rez.” Pinta Lily lagi.
“Kamu tau..” jawab Rezta.
“Aku nggak tau.” Lily menjawabnya dengan tegas.
“Aku.. aku nggak mau ganggu hidup dia. Aku mau dia.. dia dapetin cowok yang lebih baik dariku.” Kata Rezta akhirnya dengan sedikit terbata-bata.
“Kamu tuh cowok, bukan sih, Rez?” kata Lily sinis. “Jangan manja dan egois gitu dong!” wajah Lily mengeras. Lily marah. Dia benar-benar kesal dengan kelakuan Rezta.
“Apa sih maksudmu?” Rezta sedikit kesal dengan pertanyaan Lily yang terkesan menyindir itu.
“Iya, dong. Kamu manja. Kamu nggak mau berusaha mendapatkan dia yang kamu suka. Kamu tuh egois. Sebenernya, kamu bukannya mengharap dia mendapatkan yang lebih baik dari kamu. Kamu Cuma nggak mau hatimu sampai terluka karena kecewa kalo kamu mengakui perasaanmu ke dia. Aku bener, kan, Rez?” Rezta terdiam. Hatinya mengakui pendapat Lily.
“Ya.. kamu emang bener.” Jawab Rezta malu. “Maafin aku.”
“Masih sempet kamu ngakuin itu ke aku? Masih sempet kamu minta maaf ke aku? Kalo kamu emang punya banyak waktu untuk minta maaf ke aku, lebih baik kamu kejar Tari dan katakan semuanya. Jujurlah pada dia dan hatimu.” Lily berbalik dan berjalan masuk, meninggalkan Rezta.
“Thanks, Ly. Kamu emang sahabat terbaikku.” Kalimat yang meluncur tulus dan sebuah pelukan hangat dari Rezta membuat Lily membeku. Saat akhirnya Rezta melepaskan Lily dan berbalik menuju rumah Tari, Lily jatuh terduduk. Lily terisak. Telapak tangannya dia tutupkan pada wajahnya. Air mata mengalir melalui sela-sela jari Lily
“Maaf..” bisik Lily di antara isak tangisnya.
“Maafin aku, Ri..” bisik Lily lagi. “Aku memang mencintai dia..”
Diposting oleh snaily di 13.18 8 komentar
Label: short story
Senin, 22 Desember 2008
mY pRiNcE ChaRmiNg
Ufh! Bulan puasa kali ini panas banget! Kenapa ga ada hujan ya? Ini kan udah masuk bulan penghujan. Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Ga ada satu pun bayangan yang bisa dipakai berteduh. Gila! Kenapa sih, pohon di sepanjang jalan ini harus ditebang?! Panasnya bisa buat telur mata sapi neeh! Enak banget dimakan bareng es teh buatan Mbak Arum, pembantu rumahku. Sayangnya, hari ini masih bulan puasa. Duhh.. Mana bakal ada tamu lagi. Sumpek. Sumpek. Sumpek!!
Lho.. lho.. lagi puasa kok isinya keluhan semua? Sabar.. sabar.. bentar lagi, aku sampe rumah. Kaki yang serasa mau copot sendiri ini bisa aku kompres pake air dingin. Trus, karena ga bisa minum, aku bisa mengademkan diri di depan kipas angin. Kalo perlu, mandi dulu deh! Biar seger. Umm, soal tamu, aku bisa menghindar karena ada pertemuan karang taruna. Wah! Aku bisa melarikan diri dong! Asik! Ngademnya di tempat Pipi aja deh. Hehehe...
Aku memasuki halaman rumah yang teduh dari pintu samping. Tengok kanan, tengok kiri, leat depan. Aman.. aman.. Aku merasakan semilir angin yang bertiup ke arahku. Aduh, sejuknya rumahku ini. Eits! Tapi aku tetep harus hati-hati. Humm! Jangan sampe ketauan eyang. Kalo ketauan, rencana melarikan diriku batal dong! Ga mau! Ga mau! Pokoknya aku mau melarikan diri aja! Males banget menjalani ritual itu. Itu lho, berbasa-basi ama tamu. Basi ah! Mending ikut kumpulan kalee
Yosh! Berhasil melewati pintu samping dengan selamat. Begitu juga dengan dapur dan ruang makan. Sepertinya eyang emang lagi di depan deh. Hehehe... lancar. Lancar. Tinggal lari ke kamar nih. Abis itu, ganti baju, terus melarikan diri ke rumah Pipi deh! Asik! A..
“Lho? Aya baru pulang ya?” Ow.. ow.. gagal deh. Aku berbalik menghadapi pemilik suara tenang itu. Aku tersenyum dengan tampang innocent. “Tumben lewat samping. Ayo salim dulu sama eyang sama budhe.” Eyang memerintahkan dengan suara tenang. Bukan nada perintah. Ajakan. Tapi tetep aja.
Ugh.. “Sekarang?” tanyaku malas. Please, let me go.
“Iya dong. Ayo.” Eyang menarik tanganku ke arah ruang tamu. Aku terpaksa mengikutinya. Ga mungkin dong, aku membiarkan tanganku sendirian ke sana tanpa aku?
Aku mencium tangan Eyang Bagyo, kakak eyang yang ketiga. Ga lupa mencium tangan Pakdhe Pras, pria besar yang kulitnya putih banget. Haduh, jadi minder liat kulit kecoklatanku. Dilanjutkan dengan Budhe Dita, istri Pakdhe Pras. Wah, cantik banget deh, Budhe Dita itu. Tinggi, langsing, cantik, dan ga kalah putih sama suaminya. Seandainya aku yang seperti itu. Wah, pasti pada ga percaya tuh. Aku tersenyum geli memikirkannya.
“Kok senyum.” Tegur seorang wanita bertubuh besar. Kalo dilihat-lihat wanita itu terlihat mirip dengan Pakdhe Pras. Yah, gimana ga mirip. Namanya juga kakak adik. Wanita itu bernama Budhe Saras. Ah! Jadi inget film jagoan yang judulnya sama dengan namanya. Aku menunduk lagi. Tersenyum.
“Tuh, kan. Senyum lagi.” Kata Budhe Dita ramah.
Aku mengangkat wajahku yang masih terhias senyum. “Kan senyum adalah ibadah, Budhe.” Jawabku ngasal. Kaya’nya bukan gitu deh, bunyinya. Jadi aku Cuma nyengir sok innocent lagi.
Aku menyalami lagi seorang cowok. Wah, aku kira dia bule nyasar! Hampir aja aku mau bilang, ‘Sorry, bro. I think You are in a wrong place. Here is Klaten, it’s not Sydney.’ Tapi, tentu saja, aku mengurungkan niat itu. Sepertinya, aku mendengar eyang berkata kalo dia anaknya Budhe Saras. Tapi ga mirip! Cowok itu emang keliatan blasteran. Bukan blasteran jawa ama padang tentunya. Blasteran orang luar ama Indonesia. Tapi, yang mendominasi dia itu, orang asingnya. Ugh! Ga ada yang memperkenalkan dia. Siapa ya, namanya? Humm... Richard? Nicholas? David? Sebastian? No idea!
Aku mengundurkan diri setelah berbasi-basi sejenak--ini bukan salah ketik! Abisnya emang basi beneran! Tiga kali mereka tanya namaku. Dua kali mereka tanya sekolahku. Empat kali mereka tanya kelasku. Empat kali lagi mereka tanya cita-citaku. Dan lima kali mereka tanya rumah orang tuaku serta alasanku tinggal bersama Eyang. Huff!! Basi deh!--. Aku meminta ijin untuk kembali ke kamar dan bersiap-siap menghadiri kumpulan karang taruna. Aku senang bisa terlepas dari ritual berbasi-basi ini. Tapi tetep aja ada yang mengganjal di hatiku. Namanya siapa sih?
“Woy!!” seseorang berteriak di telingaku. Membuyarkan seluruh bayangan sempurna Prince charming.
..ngi. lanjutku dengan kesal.
Aku menoleh cepat menuju arah datangnya sumber suara. Tepatnya berada di sebelah kananku. Ups! Hampir aku menabrak wajah jutek seorang cowok yang berjarak ga lebih dari sepuluh sentimeter dari wajahku. Aku mendorongnya kesal.
“Apaan sih!”
“Bukan ‘apaan sih!’” kata cowok itu meniru suaraku. Aku sebal sekali kalau dia melakukan itu. “Catet hasil rapatnya dong! Sekretaris tu kerjanya nyatet-nyatet! Bukannya ngalamun buat nyantet!” Aku mendengus kesal mendengar candaan ga mutunya. “Ayo mulai bikin! Banyak yang harus kamu selesein hari ini. Karena itu, kamu ga boleh pulang sebelum semuanya selesai. Kalo perlu, kamu nginep aja di rumah Pipi!” katanya ketus.
Ugh! Main perintah aja. Dasar Demon! Wuits.. ini bukan panggilan khususku ke dia lho. Anak-anak desa juga sering manggil dia Demon. Abisnya, dia sering galak kalo ada orang yang ga bener. Dan lagi, sampai kelas 5 SD, dia masih aja salah menuliskan nama aslinya, beni, jadi demi. Yah, Dia susah banget bedain b ama d dan n ama m. Karena demi rasanya kurang mengandung unsur ejekan, teman-temannya mengubah-ubah nama-salah-tulisnya jadi demon. Jadilah panggilan Demon untuknya sejak saat itu. [maksa banged gag see?]
Bukan waktunya ngalamun kalo gitu. Ayo kerja. Kerja. Aku ga mau buka puasa di rumah orang. Bukannya apa-apa. Tapi, eyang udah ngebikinin kolak pisang spesial di rumah. Aku ga mau melewatkannya dong.
Pulang nanti, aku mau ajak ngobrol bule itu, ah! Kaya’nya dia ga bisa bahasa Indonesia deh. Mungkin aku bisa mengajarinya sedikit bahasa Indonesia. Membayangkannya membuat aku tersenyum geli. Seperti pelajaran anak kelas 1 SD? Ini pensil. Itu meja. Ini pintu. Hahaha...
“Kerja!” kata Demon yang menyadari senyum geliku.
Ugh! Aku memalingkan wajah dan kembali berkutat dengan komputer Pipi.
Yah, kegagalanku ngobrol sore itu aku alihkan. Mungkin, setelah tarawih aku bisa ngobrol dengannya. Kenapa habis tarawih? Karena dia baru balik dari nyekar dan jalan-jalan sesaat setelah bedug maghrib. Saat aku mau mengajaknya ngobrol setelah buka puasa, dia malah mengunci diri di kamar mandi dan mandi selama berjam-jam. Yah, aku terlalu melebihkan sih. Tapi, saat aku berangkat tarawih, dia belum juga keluar dari kamar mandi. Luluran dulu, mas?
Aku teringat Pipi, Wulan, Tiwi, Winda, dan beberapa cewek lain tadi, menanyaiku tentang cowok bule itu. Mereka terlihat ga percaya dan ingin membuktikannya dengan mata mereka sendiri. Beberapa yang lainnya ingin ngobrol dengan si bule. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum ya, pertanyaan Winda tadi. “
Yak! Kali ini aku bertekad mengajaknya ngobrol. Walaupun dia sedang duduk bersama ibunya di ruang tamu, aku akan menarik tangannya dan memintanya ngobrol denganku. Aku udah mempersiapkan pertanyaanku dari tadi. Haduh, sampe ga khusyuk sama sekali tarawihku tadi [maafkan aku ya, Allah..]
Aku memasuki rumah dengan hati riang. Aku tanggalkan mukenaku. Kulipat rapi dan kuletakkan di atas meja. Yap! Ayo kita ke depan!
Si bule mengangguk. “Okay.” Jawabnya ramah.
“Let’s talk there.” Kataku sambil menunjuk ke arah luar. Ke arah bangku kecil di tengah taman. Di sebelah kolam ikan. Aku berjalan di sampingnya saat melihat anggukannya. Tanda persetujuan.
“What can I do?” tanya si bule setelah kami duduk di bangku itu.
“You know, I have same assignment from my teacher. One of them is talking to foreigner. Can you help me? It’s just a short conversation.” Bujukku.
“Okay. What do you wanna know?” tanya si bule.
“Let me know your name, first. Oh yeah! Before it, my name is Cahyani Putri. You know? Cahya is cahaya, light. Putri is.. princess.” Kataku sambil nyengir.
“Princess?” ulangnya.
“Yah, I’m not a really princess for everyone, of course. I’m princess for me.” Kali ini aku tersenyum lebih lebar.
“But, for me, You are a real princess.” Kata si bule tanpa malu. Hyaahh... apa pipiku jadi semerah tomat, sekarang? Tidak! Tidak!
Pupus sudah harapanku ngobrol dengan bule hari ini. Ah! Masih ada besok. Aku akan mengajaknya ngobrol setelah sahur atau setelah dia sarapan. Atau mungkin, akan ada banyak waktu setelah aku pulang sekolah. Aku janji, aku langsung pulang ke rumah besok, untuk ngobrol dengan dia. Aku ga akan main-main dulu deh. Jadi, bule cakep, tunggu aku yawh!!
Aku meninggalkan ruang keluarga setelah mematikan lampu-lampunya. Lalu masuk ke kamar dan berharap besok diberi kesempatan untuk ngobrol.
Pukul 4.42 aku menguap. Melirik pintu kamar si bule. Ga ada tanda-tanda akan di buka. Huuff.. mungkin jadwal bangunnya jam setengah enam? Aku mengganti-ganti chanel TV setengah hati. Aku bosan menunggu seperti ini.
Sponge Bob, iklan lampu, siraman rohani, iklan pasta gigi, iklan permen penyegar mulut, iklan obat batuk. Bosaaannn.. Aku melirik jam dinding yang masih setia berdetak di atas TV. Pukul 5.24 dan masih belum ada tanda-tanda akan keluar sesosok makhluk pun dari kamar si bule.
Aku menyerah untuk menunggu di depan TV seperti ini. Kali ini, sambil menunggunya, aku memutuskan untuk mandi saja. Aku mengambil handuk yang tersampir pada kawat jemuran. Mengambil seragamku yang tampaknya harus di seterika lagi. Baguslah, ada pekerjaan tambahan. Menyeterika baju bisa digunakan untuk menunggu juga.
Aku keluar kamar mandi dan melihat ruang keluarga yang masih kosong. Aku melihat jam dinding yang masih saja berdetak di atas TV itu. Pukul 6.15. what’s wrong with him? What’s wrong with them? It’s 6.15 and they haven’t woke up yet!! Jam berapa sih, mereka bangun? Jam sepuluh?
Aku berjalan keluar kamar dengan tas penuh berisi buku pelajaran. Setelah memakai kaus kaki dan sepatu, aku mencari eyang untuk pamit pergi ke sekolah. Seperti biasa. Eyang selalu ada di pawon pada jam segini. Memanaskan air untuk minum dan mandi.
“Eyang, nanti tamunya pulang jam berapa?” tanyaku penasaran. Mudah-mudahan setelah dhuhur.
“Jam sebelas mungkin.” Jawab eyang singkat. Hah? Jam sebelas? Aku hanya punya waktu beberapa menit untuk ngobrol dengannya. Mudah-mudahan sekolah tiba-tiba memulangkan siswanya jam delapan nanti. Jadi ada banyak waktu untuk ngobrol.
“Oh ya, eyang. Nama anaknya budhe Saras tu siapa sih?” aku bener-bener penasaran dengan yang satu ini.
“Siapa ya? Keristop?” jawab eyang medok.
“Christoph.” Ulangku lebih lembut.
“Iya, itu. Dia sekarang kelas 1 SMA lho, Ya. Adikmu. Tapi kamu manggil dia, mas.” Tambah eyang tanpa kuminta.
“Ohh..” jawabku karena ga tau harus ngomong apalagi. “Oke deh, eyang. Aku berangkat dulu ya.” Aku mencium pipi eyang dan berlari kecil ke arah mas Amri yang menjemputku setiap berangkat sekolah. Mas Amri ini sepupuku. Dia tinggal dua rumah dari rumah eyang. Jadi aku bisa sering main ke tempatnya.
Jam pelajaran yang menyiksa itu akhirnya berakhir juga. Aku menyelempangkan tasku dan segera keluar kelas. Aku bahkan ga mempedulikan teriakan Pungkas yang memintaku untuk kembali. Enak aja balik. Aku mau ketemu prince charming tau! Aku berlari kecil melewati jalan panjang yang kemaren terasa panas itu. Hari ini aku ga begitu merasakannya. Aku hanya ingin sampai di rumah dan bertemu dengannya.
Aku buru-buru masuk rumah dan berlari menuju ruang tamu. Christoph. I wanna meet him!
Terlambat. Ga ada orang di ruang tamu. Kamarnya juga udah kosong. Aku melemparkan diriku di kasurnya. Kelelahan menjalari seluruh tubuhku. Keringat juga membanjiri wajahku. Bukan itu saja. Aku menangis. Aku merasa kehilangan. Aku kehilangan sosok prince charming itu. Aku tau ga boleh ada rasa lebih itu. Tapi ini masalah hati. Ga ada yang bias membohongi hati yang begitu suci, kan?
Aku merasakan airmata membasahi pipiku. Tidak membanjirinya. Hanya membasahinya. Mungkin karena wangi yang tertinggal di seprai ini. Wangi christoph. Seandainya aku bisa bertemu lagi dengannya. Seandainya aku bisa mengobrol dengannya.
Aku melamunkan segala ‘seandainya’ yang lain. Aku menikmati ‘seandainya’ itu. Menutup mata, aku meresapi ‘seandainya’. Menghirup wangi christoph yang tertinggal.
BRAK!!
Aku terbangun kaget. Pintu kamarnya menjeblak terbuka.
“Thank God!” seru seseorang yang aku tebak, membuka pintu tadi dengan kasar. Aku ga memercayai pendengaranku. Aksen yang ga mungkin dimiliki orang Indonesia. Aku menoleh dan menemukannya berdiri di dekat pintu. Di sebelah lemari. Dia membawa sebuah kamera di tangannya.
“Sorry.” Katanya setelah menyadari kehadiranku.
“Are you Christoph?” tanyaku meyakinkan penglihatanku.
“Yes.” Jawabnya singkat.
“I think, you’ve already gone to Jakarta.” Kataku bingung.
“Yeah. I miss it. So, I’m back.” Jawabnya sambil mengangkat kameranya. “And I think, I’ll pass my summer here. Do you mind?” tanyanya sopan. “My mom said that u’d guide me to go to some recreation place in Klaten and Yogya.” Dia terlihat canggung saat mengatakan Klaten dan Yogya.
Aku tersenyum melihatnya. Sepertinya, puasa ini akan sangat menyenangkan untukku. “Of course.” Aku memberikan senyumku lagi. Senyum yang termanis. “And let’s learn Indonesian language.” Christoph mengangguk dan membalas senyumku. Oh! My prince charming!!
Diposting oleh snaily di 15.41 0 komentar
Label: short story
Sabtu, 22 November 2008
Be My Ndut
Aku, Anya, Dana ama Saef udah deket sejak kami duduk depan-belakang di kelas 1 SMA. Udah sejak itu juga aku memiliki perasaan yang berbeda buat Dana. Nggak ada yang tau perasaan itu. Aku selalu yakin kalau aku bisa menyembunyikan perasaanku dengan sangat teliti. Yah, memang menyakitkan. Orang yang aku sukai berada tepat di belakangku. Tapi dia nggak tau perasaanku padanya. Nggak boleh tau. Dana nggak boleh tau. Karena perasaan yang aku punya Cuma bisa membebaninya.
Kenapa ya, aku bisa seyakin ini bisa membebaninya? Apa mungkin karena aku selalu melihat dia menatap Anya? Atau karena setiap aku, Dana dan Saef membicarakan Anya, Dana selalu menyanjung Anya? Yang mana pun membuat aku kesal. Mungkin itu yang namanya cemburu? Ha ha. Aku cemburu. Tapi, kalau memang Dana hanya ingin Anya, aku akan mundur. Biarlah sakit ini hanya aku yang memiliki. Cukup aku.
Ah, kok Anya mulu ya? Yah, mau gimana lagi. Kalo udah ada di depan Ndut, aku ga bisa berenti ngomongin Anya. Aku selalu ngomongin Anya sampe akhirnya muka Ndut yang imut itu cemberut dan jadi semakin ngegemesin. Mengasyikkan sekali membuat dia seperti itu.
Oh ya! Ndut itu panggilanku ke Puput. Cuma aku yang boleh panggil Ndut ke dia. Awas aja kalo ada yang panggil dia kaya’ gitu. Termasuk juga Saef sama Anya. Panggilan Ndut buat Puput yang mungil dan nggak gendut itu, Cuma dari aku buat dia. Aku inget, dulu Saef pernah tanya gini, “Emangnya kenapa sih? Terserah dong, Puput pingin dipanggil apa sama siapa. Emangnya udah dipatenkan bahwa nama Ndut buat Puput Cuma panggilanmu ke dia?” Aku bingung mau jawab apa waktu itu. Jadinya, aku malah Cuma perang ngotot sama Saef tentang hak paten itu. Sampe Anya dateng dan tanpa peringatan bilang, “Udah, Sa, ngalah aja. Itu panggilan cintanya Dana buat Puput. Makanya nggak boleh diganggu gugat.” Anya tertawa setelah mengatakan hal itu. Dan aku segera mengelak. Aku nggak tau apa mukaku memerah. Tapi, rasanya panas aja.
“Aku Cuma mau jailin dia!” Dan setelah kupikir lagi. Sepertinya itu kata-kata bodoh, ya? Apa benar itu panggilan cintaku buat Puput?
Aku belum bilang setuju, sih. Soalnya, kami berempat punya acara seru setiap class meeting. Memang Cuma di kelas. Memang Cuma berempat. Tapi bagiku, seru sekali. Sayangnya pembicaraan kali ini tidak seseru acara class meeting kami.
“Iya, ternyata Anya bakal ikut lomba paduan suara tingkat provinsi, lho.” Kata Dana untuk yang kesekian kalinya selama beberapa menit aku di sini. Aku melihat jam tanganku. Baru tujuh menit yang lalu aku sampai di sini. Tapi dia sudah berkali-kali mengatakan hal itu.
“10 kali.” Kata Saef yang terlihat bosan.
“Apanya?” tanya Dana yang ternyata ga nyadar. Aku hampir menjelaskan dengan nada Z saat Saef mulai berbicara dengan nada bosan. “Kamu udah bilang hal itu 10 kali hari ini.” Kata Saef.
Bagus. Aku jadi bisa menghemat energiku. Aku harus menahan diri untuk tidak berteriak di muka Dana.
“Oke.” Dana terduduk diam. Dia sepertinya mulai kehabisan ide untuk berbicara. Aku masih menatapnya ketika bibirnya bergerak untuk berbicara lagi “Eh, kemaren aku leat Anya joging. Hebat banget, ya? Masa’ dia joging dari rumahnya sampe rumahku. Berapa kilo tuh?” tanyanya dengan mata bersinar-sinar. Uh! Sebal!
“Hai, guys.” O.. tuan puteri datang. “Udah lama, nih?” Anya duduk di hadapanku, di sebelah Dana. Ah. Aku kan, nggak seharusnya marah sama Anya.
“Baru, kok, Nya.” Aku mengatakannya dengan senyuman yang agak dipaksakan. Mudah-mudahan nggak terlihat begitu. Anya tersenyum menatapku.
“Kita bisa ngobrol dulu, nih. Supirku masih agak lama.” Kata Anya lagi. Dia menatap Saef dan Dana bergantian.
“Class meeting ini kita mau ngapain, nih?” Saef mengaduk es jeruknya pelan.
“Let it flow aja, lah.” Anya berdiri dan berjalan ke arah bu Broto untuk memesan semangkuk mie ayam dan teh hangat. “Kaya’ class meeting yang lalu, kan jalan sendiri.” Tambah Anya setelah kembali ke tempat duduknya.
“Tapi aku pingin bukan Cuma kita yang nikmatin acara kita. Kita buat acara kelas, yuk.” Kali ini Saef tampak sedikit ngotot. Mungkin dia memang punya ide yang bagus untuk acara kali ini.
“Bener kata Anya, Sa. Let it flow aja. Kita kan ga punya cukup waktu sama duit buat ngadain acara kaya’ gitu.” Aku mencibir kata-kata Dana dalam hati. Cari muka.
“Emang apa sih, idenya?” Anya berusaha mendengarkan pendapat Saef dulu. Yah, masa’ mau gitu aja ditolak? Paling nggak, didengerin dulu, kan?
“Belum ada ide yang menarik, sih.” Aku Saef. Dia menggaruk belakang telinganya, tanda bahwa dia merasa malu. Anya tersenyum manis.
“Kalo gitu, kita pikirin dulu aja acaranya. Nanti kita diskusiin lagi sama Nur Cholik, pak ketua kelas.”
“Oke.” Saef menyerah. Dana nggak melepas pandangannya dari Anya. Cowok.
“Abis Class meeting, kan libur.” Kata Dana saat suasana sedang hening-heningnya. Nggak nyambung sama pembicaraan tadi, deh. “Kamu mau ke mana, Nya?” Oh.. itu, maksudnya.
“Paling ke Jakarta, kaya’ biasanya. Tumben nih, nanya-nanya. Biasanya kamu cuek aja aku mau ke mana.” Jawab Anya sambil tertawa. Anya bercanda ngomong gitu. Aku melihatnya dari raut wajahnya. Tapi sepertinya Dana serius. Dia terlihat salah tingkah saat Anya mengatakan hal tadi. Bola matanya bergerak ke kiri dari tadi.
“Ah, Anya, kaya’ nggak tau aja.” Kata Saef tertawa.
“Kenapa?” tanya Anya nggak paham. Aku melipat kedua tanganku di dada.
“Dana kan, suka kamu.” Kataku dengan enteng. Aku nggak mau mengakuinya. Tapi memang begitu kenyataannya.
“Ndut!” Dana terkejut mendengar pernyataanku.
“Lho? Iya, kan?” tantangku. “Sebentar, sebentar. Aku inget dulu. Apa ada yang kurang ya?” aku berpose seperti sedang berpikir. “Ah, Iya!” aku menatap mata Dana dalam-dalam. “Dana cinta mati sama Anya.” Kataku sinis. Entah kenapa, aku bener-bener marah.
“Puput!” kali ini dia nggak memanggilku dengan panggilan khususnya. Aku tau, dia marah. Tapi itu membuatku tambah ingin membuatnya marah.
“Kenapa?!” balasku berteriak. “Bener, kan?! Udah deh, nggak usah disembunyiin. Daripada Anya jadian sama cowok lain!” Aku menatap Saef dan Anya. “Aku pulang sendiri.” Kataku pada mereka. Aku mengambil tasku dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Aku ingin menangis. Tapi bukan di sini. Tentu saja bukan di sini.
“Hei! Kamu kenapa sih, Ndut.” Aku menarik lengannya agak keras. Ndut berhenti berjalan. Wajahnya tertunduk.
“Kamu kenapa?” ulangku lagi. “Aku perhatiin kamu jadi sering marah.” Ndut terdiam. Tapi itu hanya sebentar. Dia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Sejak kapan kamu merhatiin aku?!” tanyanya keras. Kata-kata itu menusuk hatiku lagi. “Kamu nggak tau apa pun tentang aku. Aku benci kamu!” Tambahnya. “Lepas!!” Ndut berontak.
Aku melepaskan tangannya. Apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa hatiku sesakit ini melihat dia menangis?
Aku kembali ke kantin dengan hati linglung. Aku benar-benar merasa hampa.
“Puput baik aja, kan?” tanya Anya khawatir.
Aku menggeleng. “Dia menangis.”
“Dia cemburu.” Kata Saef.
“Cemburu?” ulangku heran. “Cuma teman, kan? Kenapa cemburu?” tanyaku lagi.
“Dia suka kamu, Dana bodoh!” Saef mendorong kepalaku pelan.
“Suka?” ulangku.
“Dan sepertinya Dana juga suka dia ya, Ef?” kali ini Anya yang berbicara dengan senyum mengulum di bibirnya.
“Aku suka dia?” ulangku. “Jangan bercanda.” Aku tertawa garing memikirkannya. Nggak mungkin aku suka dia.
“Dana..” Anya memanggilku lembut.
“Kamu nggak boleh membohongi hatimu lho.” Katanya sambil tersenyum. “Kamu nggak boleh melepaskannya gitu aja, kan?” tambah Anya lagi.
“Dia sakit.” Saef berkata pada Anya sambil menunjukku. Aku sakit? Hah! Nggak mungkin.
“Sakit cinta?” Anya tertawa. Apa ini sesuatu yang lucu? Apa eharusnya aku ikut tertawa? Ha ha ha
“Jemputanku dateng. Yuk, pulang.” Anya beranjak dari bangkunya diikuti Saef dan aku.
“Cepatlah sadar, kawan. Kamu nggak punya banyak waktu.” Saef merangkulku sambil mengatakan hal itu.
Untung aku diberi banyak tugas oleh pak pustakawan. Aku menyibukkan diri di perpustakaan sekolah setiap hari. Sejak berangkat sampai semua pulang. Aku melewatkan acara class meeting yang seru di sekolahku. Aku juga meninggalkan acara class meeting bersama teman sekelas yang sangat kunantikan sejak dulu. Aku memandang langit di sela acara menata buku.
“Kamu ingin bergabung dengan temanmu?” tanya pak Syahrir, pustakawan sekolahku.
“Nggak, Pak. Saya ingin di sini.” Jawabku setengah berbohong. Aku memang ingin menjauh dari teman-temanku. Walau sepertinya, sedikit hatiku ingin berada di sana.
“Jangan memaksakan diri ya?” kata beliau bijak. “Kamu boleh istirahat kapanpun kamu mau. Kamu sudah bekerja keras.”
Aku tersenyum. “Baik, Pak. Tapi saya masih ingin di sini.”
“Terserah kamu.” Pak Syahrir membalas senyumku. “Oh ya, nanti akan ada yang membantu kamu di sini.” Yang ini membuatku terkejut. Sejak kapan anak-anak sekolahku lebih tertarik membantu di perpustakaan daripada ikut class meeting?
“Siapa, Pak?” tanyaku penasaran. “Bapak lupa namanya. Tapi sepertinya sekelas dengan kamu.”
Aku tambah penasaran dengan anak itu. Ada ya, anak yang mau melepaskan kesempatan ngeliat temen-temennya baca puisi dan nyanyi di depan kelas? Aku pingin tau.
“Permisi, Pak.” Suara di depan menyadarkan kami adanya tamu.
“Mungkin itu.” Pak Syahrir berjalan dengan penuh wibawa menyambut tamunya. Aku nggak mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Tapi sepertinya Pak Syahrir udah nggak ada di perpustakaan lagi. Jelas sekali dari suara motor beliau yang menjauhi halaman parkir di samping perpustakaan.
“Ada yang perlu dibantu?” tanya ‘teman’ku itu. Aku menoleh dan terkejut melihat yang berdiri di depanku. Dana. Aku segera membuang muka dan menyibukkan diri menata buku lagi.
“Ndut.” Panggilnya lembut. “Kamu masih marah?” tanyanya.
“Nggak.” Jawabku ketus. Emangnya nggak keliatan ya, kalo aku marah?
“Hei. Aku mau bicara.” Dana menarik tanganku dan mengangkatnya ke depan dadanya.
“Nggak usah pegang-pegang. Kalo mau bicara ya bicara aja. Ini negara bebas, kok.” Aku bersikap ketus lagi. Padahal jantungku berdetak sangat kencang dan mukaku terasa panas.
“Aku menyesal membuat kamu marah.” Katanya dengan nada bersalah. “Maafin aku, ya?” pintanya.
“Hmmph..” jawabku setengah hati. “Jangan gitu, dong, Ndut.” Desak Dana lagi.
“Suka-suka aku.” Heran. Aku nggak bisa menghentikan nada ketus ini. “Kamu juga nggak rugi, kok, aku kaya’ gini.”
“Rugi, dong.” Sahutnya tiba-tiba dengan polos.
“Rugi?” kataku dengan nada meremehkan. Nggak mungkin banget, kan? Masa’ gitu aja buat dia rugi?
“Iya. Rugi.” Ulangnya. “Kalau kamu marah terus kaya’ gitu, kapan aku bisa bilang I love you?”
Aku makin sewot. “Terserah aja kapan kamu mau bilang I..” aku tersadar “..love you?”
“Yupz! Dana love Ndut.” Katanya mantap dengan senyum terkembang.
“Hah?” aku menatapnya nggak percaya. “So.” Katanya enteng. “Would you be my ‘Ndut’?”
“Jangan bercanda!” aku memukul dadanya sebal. Bercanda lagi. Aku hampir berjalan menjauhinya ketika dia menggenggam kedua tanganku.
“Ndut!” Dana memandang kedua mataku. “Aku nggak bercanda! Kamu mau nggak jadi cewekku?” tanyanya lagi.
“Kamu suka Anya.” Kataku getir. “Itu menurutmu, kan? Hatiku bilang aku suka kamu.” Dana masih menggenggam erat tanganku.
“I’m not kidding!” katanya putus asa.
Aku tersenyum melihat kepastian di matanya yang sedikit berhias putus asa. Sepertinya, ini waktuku untuk mengatakannya. Tapi ini rahasia. Ini Cuma untuk aku dan Dana. (^ . -)
Diposting oleh snaily di 15.34 0 komentar
Label: short story
